Selasa, 12 April 2011

quo vadis perlindungan konsumen perbankan ( koran tempo, 12 April 2011)

“Quo vadis” perlindungan konsumen perbankan

Oleh Sudaryatmo

Ironis. Ditengah komunitas gerakan konsumen se-dunia belum lama merayakan hari hak konsumen dunia pada 15 Maret 2011, konsumen perbankan Indonesia justru disuguhi pelanggaran hak-hak konsumen perbankan  secara telanjang dalam bentuk meninggalnya konsumen diduga karena tekanan psykis debt collector dan kasus pembobolan dana nasabah oleh karyawan bank, keduanya terjadi pada bank asing Citibank. Lebih ironis lagi, tema hari hak konsumen dunia tahun ini adalah “ consumer for fair financial services ‘.

Apa yang salah dengan system perbankan di Indonesia sehingga konsumen perbankan dinistakan, mereka membayar tetapi diperlakukan semena-mena oleh industri perbankan, dimana peran Bank Indonesia sebagai regulator yang seharusnya juga mengayomi konsumen ?

Dalam catatan Bidang Pengaduan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) statatitik pengaduan konsumen dalam lima tahun terakhir ini selalu masuk tiga besar komoditas yang paling bandyak dikeluhkan konsumen. Pada 2010 dari total pengaduan konsumen sebanyak 590 kasus, pengaduan jasa keuangan menduduki ranking pertama, ada 111 pengaduan (18,81 persen). Terdiri dari aduan konsumen perbankan 81 kasus, aduan konsumen leasing 22 kasus dan aduan konsumen asuransi 8 kasus.

Aduan konsumen perbankan didominasi masalah kartu kredit. Beragam masalah dikeluhkan pengguna kartu kredit, pada umumnya menyangkut kesulitan konsumen melaksanakan kewajiban membayar tagihan. Persoalan ini menimbulkan masalah ikutan berupa penggunaan jasa penagihan pihak ketiga (debt collector ) dengan menggunakan cara-cara intimidasi, teror dan kekerasan. Masalah lain adalah data konsumen dimasukkan dalam negatif list Sistem Informasi Debitur (SID), sementara konsumen merasa tidak pernah diklarifikasi pihak bank dan nilai kewajiban konsumen secara nominal sangat kecil.

Dalam hal ada masalah dengan ketidaksanggupan pemegang kartu membayar kewajiban, sejauh mungkin penggunaan pihak ketiga oleh bank dihindari. Pertama, sepanjang konsumen akomodatif, ruang penyelesaian lebih terbuka ketika konsumen bisa berkomunikasi, berunding dengan pihak bank. Sedangkan ketika berhubungan dengan pihak ketiga, cenderung tanpa kompromi dan tidak mau tau kondisi yang dihadapi pemegang kartu.

Kedua,  penyelesaian melalui pihak ketiga juga kadang tidak menyelesaikan masalah, tetapi justru menimbulkan masalah baru. Seperti konsumen sudah melaksanakan pelunasan tagihan, tetapi tidak tercatat dalam administrasi bank, sehingga konsumen tetap dikenakan tagihan, bunga dan denda.

Ketika, kalau sampai menggunakan jasa pihak ketiga, pihak bank seharusnya dilarang memberi order pihak ketiga melalui sistem borongan dalam bentuk bank memberikan data nasabah yang bermasalah, kemudian oleh pihak ketiga ”dibeli” sejumlah nilai nominal tertentu, untuk selanjutnya memberi kewenangan kepada pihak ketiga melakukan penagihan kepada konsumen. Jasa penagihan dengan sistem borongan seperti ini cenderung menggunakan cara-cara yang melanggar etika dan hukum.

Belajar dari pengalaman banyak negara, iklim perlindungan konsumen yang baik selalu ditandai dua hal. Pertama, Adanya kebiasaan / tradisi konsumen untuk mengadu (complaint habbit ) terhadap praktik pelanggaran hak-hak konsumen, sekecil apapun pelanggaran hak konsumen tersebut. Pada  saat yang sama perlu ada kemudahan dan keragaman bagi konsumen ketika akan melakukan pengaduan baik kepada bank, regulator (BI), Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) , Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen (BPSK) dan Lembaga Konsumen.

Kedua, menumbuhkan pengawasan independent oleh pihak ketiga. Selama ini industri perbanan diawasi oleh BI selaku regulator. Mekanisme ini tidak cukup, perlu ada pengawasan oleh phak ketiga yang mengawasi sekaligus industri perbankan dan BI selaku regulator, dalam bentuk survey-survey independen tentang berbagai produk perbankan yang terjadi di masyarakat. Peran  ini dapat dilakukan oleh lembaga konsumen , perguruan tinggi dan media massa.

Dari aspek ruglasi yang menjadi acuan dalam bisnis kartu kredit adalah Peraturan Bank Indonesia (PBI). Disini ada dua masalah. Pertama, dalam proses pembuatan PBI perlu ada mekanisme konsultasi publik, tidak hanya kepada penerbit kartu kredit, tetapi juga kepada wakil pengguna kartu kredit, sehingga aturan yang ada juga mempertimbangkan aspek perlindungan konsumen.

Kedua, dalam PBI ada sanksi administrasi dan sanksi financial bagi penerbit kartu kredit yang melakukan pelanggaran, tetapi Bank Indonesia (BI) tidak pernah mengumumkan kepada publik tentang sanksi yang telah dijatuhkan berikut nama-nama bank penerbit kartu  kredit yang mendapat sanksi, dengan alasan untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap industri perbankan. Jadi publik tidak tahu apakah sanksi itu pernah dijatuhkan BI  atau tidak. Untuk bank yang memang sudah tidak layak dipercaya masyarakat mengapa  BI membela mati-matian dengan berlindung dibalik  kepercayaan masyarakat terhadap perbankan.***( Sudaryatmo, Ketua Pengurus Harian YLKI )

Sabtu, 02 April 2011

KMDGI (Kriyasana Mahasiswa Desain Grafis Indonesia)

KMDGI
merupakan forum untuk berkumpul, bertukar pikiran, berdiskusi dan
apresiasi konsep kekaryaan/konsep kreatif antar mahasiswa desain grafis
se indonesia. Forum KMDGI sudah diadakan berdiri sejak tahun 1993,
dengan agenda kegiatan setiap 2 tahun sekali. Saat ini peserta KMDGI
sudah beranggotakan 30 Perguruan Tinggi baik negeri maupun swasta
se-jawa Bali, yang mempunyai jurusan desain komunikasi visual. Secara
bergiliran kegiatan KMDGI diadakan pada perguruan tinggi yang berbeda.
Melalui forum KMDGI VIII ini diharapkan mahasiswa mampu menjadi ujung
tombak pergerakan dunia Desain Grafis / Komunikasi Visual di Indonesia.

Perjalanan KMDGI I s/d VIII
KMDGI pertama kali diadakan di Universitas Trisakti, pada tanggal 10
s/d 13 September 1993 diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Desain
Universitas Trisakti.. Para peserta delegasi yang mengikuti acara
tersebut adalah perwakilan dari 3 universitas yaitu dari Universitas
Sebelas Maret Surakarta, Universitas Trisakti, Universitas Udayana dan
3 institut yaitu ISI Yogyakarta, ITB, IKJ Jakarta.

Tujuan diselenggarakannya kegiatan KMDGI I pada tahun 1993, adalah
sebagai forum komunikasi antar mahasiswa desain grafis untuk mengangkat
eksistensi desain grafis di Indonesia.

Pada saat itu, telah disepakati mengenai sistem penyelenggaraan KMDGI
yang dilaksanakan setiap 2 tahun sekali di perguruan tinggi yang
berbeda, dengan 2 kegiatan yaitu :

1. Kegiatan Rutin :
Adanya persiapan materi dan teknis pelaksanaan kegiatan KMDGI akan
dibahas dalam pertemuan yang diselenggarakan minimal 6 bulan sebelum
kegiatan.

2. Kegiatan Non-rutin :
Adanya pertemuan antar peserta mahasiswa/ delegasi guna membahas
kegiatan yang diadakan sebelum penyelenggaraan untuk 2 tahun berikutnya.
Dengan kesepakatan tersebut, maka kegiatan KMDGI dilaksanakan setiap 2 tahun,
tetapi untuk lebih memantapkan visi dan misi KMDGI maka jarak kegiatan
antara KMDGI I dan KMDGI II, diselenggarakan dengan jarak 1 tahun yaitu
pada tahun 1994 dan bertempat di Fakultas Seni Rupa Desain, Jurusan
Desain Komunikasi Visual ITB.
Setelah pelaksanaan kegiatan KMDGI
II, kegiatan KMDGI mulai dilaksanakan 2 tahun sekali, yaitu pada tahun
1996 di Fakultas Seni Rupa Desain, Jurusan Desain Komunikasi
Visual Universitas Udayana Bali.

Pada tahun 1998, karena situasi ekonomi dan politik di Indonesia yang
tidak memungkinkan, maka penyelenggaraannya KMDGI IV ditunda
pelaksaanaanya dan dilaksanakan pada tahun 2000 di Fakultas Seni Rupa
Desain ISI, Jurusan Desain Komunikasi Visual Yogyakarta.Adapun tempat penyelenggaraan KMDGI I hingga KMDGI VIII adalah :

1. Th 1993 Fakultas Seni Rupa Desain, Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Trisakti

2. Th 1994 Fakultas Seni Rupa Desain, Jurusan Desain Komunikasi Visual ITB

3. Th 1996 Fakultas Seni Rupa Desain, Jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Udayana

4. Th 2000 Fakultas Seni Rupa Desain, Jurusan Desain Komunikasi Visual ISI Jogja

5. Th 2002 Fakultas Seni Rupa Desain, Jurusan Desain Komunikasi Visual IKJ Jakarta

6. Th 2004 Fakultas Desain, Jurusan Desain Komunikasi Visual, Universitas Kristen Petra Surabaya

7. Th 2007 Fakultas Seni Rupa Desain, Jurusan Desain Komunikasi Visual ISI Denpasar

8. Th 2009 Fakultas Sastra dan Seni Rupa, Jurusan Desain Komunikasi Visual UNS

Dan untuk tahun 2011 atau KMDGI 9 akan di adakan di Kota Bandung.. Mari kita berbondong memeriahkan acara ini gan..!!!
Ini link grup KMDGI 9 gan... dijamin 100000000000000% bukan jebakan betmen..
http://www.facebook.com/group.php?gid=142066955713
ini website resmi KMDGI : http://kmdgi.org/

Selasa, 08 Februari 2011

patah hati

Ketika semuanya menjadi abu2 dikala malam yang menjadi saksi., q merasa hidup ini memang sudah diatur. Hati ini kelu oleh penderitaan yang sebenarnya kubuat sendiri, terkadang aku tak tahu harus berbuat apa. Apa diri ini yang selalu merasakan sakit sehingga terbentuk dinding yang cukup tebal untuk merasa?? Tapi semuanya tak terlihat jelas..

Ketika aku ingin menjadi diriku sendiri, ada saja yang menyerang ku dari belakang, entah apakah ini menjadi dilema.. semuanya terenggut!! Apa yang kusuka diambil, apa yang menjadi kemauanku terenggut!! Memang tidak secara paksa. Akhirnya ku memutuskan untuk menjauh, karena diri ini belum mampu menahan gejolaknya. Serasa sakit sekali. Pikiranku kalut tak terkira.harus ku apakan ini. Bagaimana diakhir nanti??? Apa harus terputus tali silaturahmi yang telah lama meregang?? Q tak mau. Bukan itu maksudqu. Tolong q. Tolong mengerti q sedikit saja. Atau mungkin q yang terlalu egois untuk mu sehingga kau menghindar bahkan memilih dia?? Hanya Alloh yang tau kegalauan hatiku. Q tak mau semuanya mulai tersirat, padahal sesungguhnya qadar itu belum ada..

Biarkan ini tersimpan, mulai dari sekarang dan untuk selamanya. Ku ikhlaskan semuanya. Inilah pelajaran yang mungkin harus ku selesaikan, menghadapi semuanya dengan kemantapan dan hati yang lapang. Tak lagi memikirkan dia ataupun hal-hal yang belum menjadi ukuranku saat ini. Biar waktu yang membimbing jasadku, biar ikhtiar dan doaku yang menjawab semuanya...

“catatan hati ini sebenarnya sudah tersimpan sangat lama, ketika dia memilih dia.. pikiranku tersungkur, tapi sekarang sudah sedikit bangkit dan melupakan hal itu. Q tak mau menjadi penyakit dalam diriku. Sudah banyak bekas yang tertoreh untuk masalah2 lain,, bismillah kumantapkan niatku mulai dari sekarang.. “

Senin, 22 November 2010

Resensi Film "Hitam Putih"


JUDUL FILM 
Hitam Putih
TAHUN PRODUKSI
13 Mei 2010
DURASI FILM
12.31
SUTRADARA
Adiwena Yusuf Nugraha

CREW
Terbentuk dalam IPC Crew :
Sutradara dan penulis – Adiwena Yusuf Nugraha
Handycaman – Muhammad Rizal Fikry
Editor – Muh. Zainuri
Seluruh  cast

PENOKOHAN
Cast:
-         Adiwena Yusuf Nugraha – saladin
-         Edwi Mardiyoko - Qois Nur Rohman
-         Tantrisna Pratidina - Sabila
-         Muhammad Sidiq Y.M. – Darjo
-         Tori Nuariza Sutanto – Kojek
-         Deni Purwanto – Kupret
-         Yulia Hermawaty – teman Sabila
-         Siti Nurmalia – gadis
-         Bocah-bocah Ledok Sari – anak-anak jalanan
PROTAGONIS : Saladin DAN ANTAGONIS : Qois Nur Rohman

MUSIK
Slipknot, Cahaya Hati by Opick, Assalamu’alaikum by Ebiet BA
JENIS FILM
Drama
SINOPSIS FILM
Aktivis dakwah, Qois Nur Rohman, menunjukkan berbagai kegiatan sebagai seorang aktivis dakwah bersama dengan teman-temannya. Berawal dari sebuah organisasi rohis kampus yaitu SKI FSSR ( Syiar Kegiatan Islam Fakultas Sastra dan Seni Rupa ) yang nota bene kebanyakan dari mereka adalah pejuang Islam zaman sakarang, dengan style jilbab besar bagi para akhwat (sebutan untuk Sodara Perempuan) dan celana konclang bagi para ikhwan (sebutan untuk Sodara Laki-laki). Kegiatan sehari-hari adalah mengaji, sholat berjamaah, belajar agama bersama, tausiyah, kegiatan sosial, syuro’(rapat),  semuanya itu bagi Qois begitu sempurna.

Tapi, di lain sisi, semuanya terasa berbeda ketika SKI dimasuki oleh seorang mahasiswa anggota baru SKI. Anak ini urakan, berpenampilan slengekan, suka berpakaian metal, celana rombeng, pokoknya sangat kontras sekali dengan budaya SKI. Namanya Saladin,  langsung benak Qois membandingkannya dengan sosok Saladin yang  telah menaklukan Jerussalem. Awalnya Qois sangat benci dengan anak ini, karena kelakuannya yang suka mengganggu mahasiswi bahkan seorang akhwat pun tidak lepas dari gangguannya. Memang sungguh terlalu.

Karena semua perilaku yang tak beradab ini, Qois memutuskan untuk menasihatinya. Ternyata Qois bertemu dengan Saladin di Mushola FSSR ketika akan sholat. Lalu Qois memanggil anak ini, mengajak berkenalan dan langsung menceramahinya. Qois mempermasalahkan tentang Adin yang suka bercanda berlebihan dengan perempuan padahal Adin sudah menjadi seorang ikhwan. Seorang ikhwan diharuskan untuk menjaga pandangan (Gadhul bashar) dengan lawan jenis. Bahkan, Qois memperkarakan tentang cara Adin bercanda dengan seorang akwat, yaitu ukhti Sabila seorang kabid Nisa’ di SKI. Qois menyarankan untuk bisa lebih menjaga sikap di depan ukhti Sabila.

Tapi, Adin menyangkal kalau dia bercanda berlebihan dengan ukhti Sabila, memang Adin anak baru di SKI sehingga masih butuh banyak bimbingan mengenai cara bergaul dalam Ajaran Islam. Dibalik sosok putihnya, Qois adalah seorang mahasiswa yang terlalu frontal dalam berargumen, karena sebuah ucapan “ hah,,, orang sepertimu mendapatkan surga..” Akhirnya terjadilah konflik antara Adin dan Qois.

Memang dilihat dari luar Adin adalah sosok preman kampus yang mungkin bisa dibilang tidak punya masa depan. Tapi, dibalik sosok hitamnya itu ternyata Adin adalah sosok penyayang terhadap anak-anak. Apalagi anak-anak jalanan.

Pada suatu saat, ketika Sabila pulang dari mengajar, dia diganggu oleh beberapa preman.
Lalu, Qois datang menolong Sabila. Ternyata Qois tidak mampu menghadang, akhirnya Sabila lari dan mendapati Adin. Sabila meminta Adin untuk membantu Qois. Akhirnya saling keroyok pun jadi.

Pihak Adin dan Qois babak belur. Para preman setelah puas menghajar langsung pergi meninggalkan mereka. Setelah KO semua, mereka berdua saling tabayyun (saling mengungkapkan maaf). Mulai dari situ keduanya akhirnya bersahabat.

ALUR FILM
Alur film ini standar, diawali dengan sebuah deskripsi, pengenalan: lingkungan ataupun tokoh-tokohnya. Sejak awal, penonton sebisa mungkin dikenalkan dengan siapa (personal), atau siapa-siapa (multikarakter) yang berada dalam film. Pengenalan tokoh dan lingkungan menjadi penting. Sekuens-sekuens ini akan sangat membantu dalam mendeskripsikan persoalan-persoalan selanjutnya.

Ketika penonton sudah mengenal sebuah wilayah geografi ataupun tokoh-tokohnya, kemudian akan dikenalkan dengan persoalan macam apa yang ingin dikupas dalam film. Konflik-konflik situasional, yang pada akhirnya menciptakan perubahan kondisi ataupun perubahan tokoh-tokoh dalam film akan memberikan makna yang penting.

Setelah itu, film akan diakhiri dengan satu tawaran solusi. Untuk ending film, pembuat film menempatkan pernyataan-pernyataan khusus dari subjeknya. Bentuknya, statement keinginan, ajakan.

KELEBIHAN FILM
Tim produksi film ini IPC  Crew (Ikhwan Penuh Canda) adalah anak – anak dari Fakultas Sastra dan Seni Rupa Universitas Sebelas Maret kebanyakan dari jurusan Sastra Inggris, Komunikasi, dan Desain Komunikasi Visual semester 5. Tim ini terdiri dari anak-anak yang berpengaruh di fakultasnya dalam hal organisasi maupun kuliah.

Lokasi shooting di sekitar area FSSR UNS tepatnya mengambil setting tempat di gedung I, mushola gedung IV (tapi sekarang sudah diubah menjadi kelas), dan sekretariat SKI FSSR (Syiar Kegiatan Islam FSSR).

Untuk masalah kostum sudah tepat untuk tiap peran yang dimunculkan, baik untuk peran utama, figuran, maupun antagonisnya.

 Ini bukanlah sebuah  film komersil, pembuatan film ini bermula dari tuntutan proker SKI dari bidang Humas yaitu MUASKI (Temu alumni SKI). Untuk memanfaatkan momen acara yang notabene akan dihadiri oleh banyak aktivis dakwah, merekapun mencoba untuk berdakwah melalui film. Segala kritikan, sindiran, bahkan pujian pun mereka kemas dengan berbagai lakon yang mendominasi di ranah dakwah khususnya aktivis kampus sehingga film ini mampu memberikan efek spiritual dan emosional yang kuat bagi para penontonnya. Intinya mampu memadukan pertimbangan pasar dan idealisme.

Tembakan-tembakan kata yang dimunculkan dalam skenario (ditulis Adiwena YN sendiri) sangat jelas tepat sasaran dan tidak bertele-tele.  Bentuk-bentuk pengadeganan yang di strukturkan dalam treatment, juga nampak jelas di desain dengan matang. Petuah-petuah yang ada mampu memberikan angin segar pada penikmat sepantarannya.

Film ini sepertinya memang sengaja tidak dibuat rumit oleh Adiwena. Sejumlah tema-tema dialog yang sebenarnya cukup mendalam sengaja dibiarkan menggantung tanpa debat. Adiwena membuat film ini tetap menjadi film Realis, bukan film ceramah, apalagi film filosofi.

KEKURANGAN FILM
Banyak sekali kekurangan dalam film ini. IPC Crew masih amatiran dalam hal memproduksi film. Film ini adalah film perdana IPC Crew, baru pertama kali membuat film. Hanya bermodal satu buah handycam merk Sony. Film ini dikerjakan dalam waktu 2 minggu dengan pengeditan film yang hanya dikerjakan selama 2 hari. Resolusi gambar yang kurang, pemakaian handycam yang kurang maksimal.

Sebenarnya dalam memainkan speed lumayan, sehingga scene by scene tidak membosankan, namun masih agak kaku dalam pemilihan adegan yang harus dimunculkan (misalnya dalam adegan Ukhti Sabila yang dihadang oleh Saladin hanya untk mengembalikan buku, ekspresi kaget ukhti Sabila terjadi dua kali take dan juga dalam adegan ketika Saladin menghampiri anak-anak jalanan Ledoksari  dengan melambaikan tangan).

Tata lighting yang buruk. Terlihat dari beberapa adegan yang terlihat agak gelap karena dilakukan pada malam hari ( misalnya mulai dari adegan Ukhti Sabila pulang dari mengelesi sampai dengan Saladin dan Qois dikeroyok para preman). Untuk editing pergantian scene juga mengalami ketidaksempurnaan (misalnya adegan pada saat Saladin mengajarkan ngaji pada anak-anak jalanan bahkan di akhir film juga seperti itu).

Acting artist yang masih kaku banyak ditemukan di sana sini. Ciri khas pengadeganan masih bersifat stagnan, tapi karakter yang dimunculkan cukup kuat untuk di beberapa peran. Pengambilan angle kamera juga masih banyak yang jauh dari sempurna. Masih banyak take kamera yang asal ambil dan bergetar atau kurang slow dalam menjalankan kamera.

Penggunaan panggilan-panggilan Arab untuk ukhti singkatnya ukh (Panggilan untuk perempuan) sudah ada. Tapi untuk setiap adegan Qois kenapa ketika memanggil Saladin tidak menggunakan kata akhi singkatnya akh (panggilan untuk laki-laki), misalnya akh Adin? Itu merupakan salah satu kejanggalan karena kurang teliti dalam komposisi sebuah skenario.

Dalam hal make up meski tidak sempurna betul dan ada yang janggal bin agak memaksakan  (mungkin terkait dengan rundown shooting  atau crew make up yang terbatas) tapi komandan departemen sudah cukup bisa menghadirkan ciri khas tiap peran.  Tapi ada pertanyaan dalam benak saya : itu Saladin nggak ganti baju ya ?  ya, mungkin masih sulit sekali menemukan dedengkot departemen make up yang brilian dan eksperimentatif. Mungkin banyak yang menganggap departemen ini bukan departemen yang bergengsi untuk ditapaki sebagai karir maupun ruang karya. Bagi saya, jabatan make up film sesungguhnya tidak cocok di berikan pada mereka yang berbasic salon. Saya lebih menghimbau agar kawan-kawan seni rupa mau untuk merebut posisi ini agar make up film Indonesia lebih realis, menjadi tampak pantas dalam frame kamera dan tentu terhindar dari gaya make up panggung teater.

KESIMPULAN
Sebenarnya untuk keseluruhan pembuatan film amatiran ini cukup baik.
Ditilik dari segi esensi isi :
yang disampaikan yaitu tentang Indahnya Islam, betapa Islam itu sangatlah penuh dengan kasih sayang, Dalam Al Qur’an mengajarkan bahwa seluruh muslim itu bersaudara jadi wajib bagi kita semua saling membantu, saling mendoakan kebaikan, dan saling menjaga ukhuwah (tali silaturahim persaudaraan).

Pesan dakwah (menyampaikan kebaikan sesuai dengan aturan Islam) itu memang wajib bagi seluruh umat Islam di seluruh dunia, tapi cara yang kita ajarkan haruslah yang sesuai dengan perilaku setempat agar mudah diterima oleh lingkungan. Tidak perlu berdakwah dengan memunculkan sebuah arogansi yang sebenarnya bisa membuat saudara kita seolah-olah tertekan oleh aturan-aturan Islam. Padahal Islam mengajarkan kelembutan dan kesesuaian. Pemahaman sebuah agama pun perlu misalnya pemahaman tentang “kita sebenarnya tidak dilarang untuk saling mencintai, yang dilarang itu berzina”, salah sedikit bisa berujung pada pemecahan yang bisa kita lihat dari fenomena sekarang yaitu banyak bermunculan golongan – golongan Islam baru. Sesuai janji Allah, orang-orang yang masuk surga adalah orang-orang yang berpatokan pada Al Qur’an dan Hadist.

Tujuan Produser membuat film ini adalah “ Meningatkan pada yang berilmu agar tidak sombong, mengingatkan pada yang masih belum mengerti untuk memahami”. Hitam dan putih itu lumrah di setiap jiwa seluruh manusia. Dengan memerankan hitam pada tokoh Adin dan putih pada tokoh Qois.

Ditilik dari segi pengadeganan, lumayan untuk enak ditonton sebagai film drama. Isi mampu tersampaikan dengan baik, hanya saja pengeditan yang masih terlihat banyak kekurangan di sana sini. Di awal adegan, saya sudah melihat bentuk klise pengadeganan yang bergaya drama ( misalnya, pada saat Qois mengaji dan sholat ada narator yang mengiringi untuk menceritakan seluruh kegiatan-kegiatan SKI ), tapi itu menjadi lumayan membantu acting, apalagi saat film ini di bombardir dengan komposisi adegan yang sangat kuat disana sini.





Disusun oleh :
DYAH MATA SUCIATI
C0708029
DESAIN KOMUNIKASI VISUAL 2008

UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
2010/2011


Minggu, 21 November 2010

Kamus Perfilman


KAMUS PERFILMAN 1
Berikut ini adalah beberapa Glossary/Istilah yang umum dipakai di dunia Sinematografi & Produksi Televisi.

Acting :
Sebuah proses pemahaman dan penciptaan tentang perilaku dan karakter pribadi dari seseorang yang diperankan

Addes Scenes :
Adegan yang ditambahkan kedalam konsep asli, biasanya diambil setelah film diselesaikan

Agent (Agent Model) :
Seseorang yang dipekerjakan oleh satu atau lebih talent agency atau serikat pekerja untuk mewakili keanggotaan mereka dalam berbegosiasi kontrak individual yang termasuk gaji, kondisi kerja, dan keuntungan khusus yangtidak termasuk dalam standard guilds atau kontrak serikat kerja. Orang ini diharapkan oleh para aktor/aktris untuk mencarikan mereka pekerjaan dan membangun karir mereka

Anamorphic :
Lensa yang digunakan dalam fotografi untuk memperkecil gambar widescreen ke ukuran 35mm. Proses ini dibalik ketika memproyeksikan hasil akhir film, memunculkan gambar kembali ke ukuran normal pada layarlebar.

Answer Print :
Married Print pertama dari film yang dibuat oleh lab pemroses film, dan kemudian akan digunakan untuk menetapkan standar kualitas film yang akan diedarkan kepada publik.

Apple Box :
Digunakan untuk meninggikan seorang aktor/aktris serta suatu obyek sesuai dengan ketinggian yang tepat untuk pengambilan gambar.

Art Departement :
Bagian artistik. Bertanggung jawab terhadap perancang set film. Seringkali bertanggung jawab untuk keseluruhan desain priduksi. Tugasnya biasanya dilaksanakan dengan kerjasama yang erat dengan sutradara.

Ascpect Ratio :
Perbandingan antara lebar dan tinggi bingkai gambar (frame)
Rasio untuk tayangan televisi adalah 1,33:1 yang artinya lebar frame yang muncul di televisi adalah 1,33 kali dari tinggi.

Art Director :
Seorang asisten sutradara film yang memperhatikan administrasi, hal yang penting sehingga departemen produksi selalumengetahui perkembangan terbaru proses pengambilan film. Ia bertanggung jawab akan kehadiran aktor/aktris pada saat dan tempat yang tepat, dan juga untuk melaksanakan instruksi sutradara.

Available Lighting :
Pengambilan gambar tanpa tambahan cahaya buatan manusia

Audio Visual :
Sebutan untuk perangkat yang menggunakan unsur suara dan gambar

Art Director :
Pengarah artistik dari sebuah produksi

Asisten Produser :
Seorang yang membantu produser dalam menjalankan tugasnya

Audio Mixing :
Proses penyatuan dan penyelarasan suara dari berbagai macam jenis dan bentuk suara.

Angle :
Sudut pengambilan gambar

Animator :
Sebutan bagi seorang yang berprofesi sebagai pembuat animasi

Audio Effect :
Efek suara

Ambience :
Suara natural dari obyek gambar

Broadcaster :
Sebutan untuk seseorang yang bekerja dalam industri penyiaran

Background :
Latar belakang

Barn Doors :
Pintu berengsel yang dipasangkan di depan lampu studio yang dapat dibuka atau ditutup untuk memunculkan cahaya pada area tertentu di set.

Barney :
Bungkus kain pada pelindung yang dapat dipakaikan pada kamera film atau blimped kamera film, untuk mengurangi siara mekanisme. Ada juga heated barney yang digunakan dalam suhu dingin.

Best Boy :
Asisten Gaffer atau asisten Key Grip.

Blank :
Selongsong senapan atau pistol yang berisi peluru buatan untuk menggantikan peluru yang sesungguhnya. Blank dipergunakan dalam film untuk mencegah terjadinya kecelakaan, walaupun sesungguhnya peluru kosong itu sendiri masih berbahaya jika ditembakan dan mengenai orang dalam jarak dekat.

Blimp :
Ruangan kedap suara yang mengelilingi kamera film untuk mencekah ikutn terekamnya bunyi mekanisme kamera kedalam alat perekam suara.

Blow Up :
Perbesaran ukuran film dari 16mm ke 35mm yang dilakukan di laboratorium untuk diputar di bioskop. Istilah ini juga dipergunakan dalam fotografi untuk memperbesar foto guna keperluan display atau promosi.

Body Frame, Body Pod :
Digunakan untuk menunjang hand held camera di lapangan.

Boom Man :
Individu yang mengoperasikan mikrofon boom.

Booth Man :
Operator proyektor film. Orang yang bekerja dalam ruang proyeksi.

Breakaway :
Sebuah set atau hand property, misalnya botol atau kursi yang dirancang untuk rusak dengan cara-cara tertentu sesuai aba-aba.

Breakdown :
Biasanya merujuk pada jumlah spesifik rincian pengeluaran dalam sebuah produksi film. Dapat juga berarti pengaturan atau perencanaan berbagai adegan beserta urutan pengambilannya.

Budget :
Pengeluaran keseluruhan dari produksi film.

Blocking :
Penempatan obyek yang sesuai dengan kebutuhan gambar

Bridging Scene :
Adegan perantara di antara adegan-adegan lainnya

Back Light :
Penempatan lampu dasar dari sudut belakang obyek

Breakdown Shot :
Penentuan gambar yang sesuai dengan naskah atau urutan acara

Bumper In :
Penanda bahwa program acara tv dimulai kembali setelah iklan